Jumat, 19 Februari 2016

Kampung Arab Al Munawar




PalembangHistory - Kampung Arab Al Munawar merupakan sebuah perkampungan  yang terletak di kawasan 13 Ulu.
Kampung Al Munawar terletak di tepian Sungai Musi dan Sungai Ketemenggungan. Di kompleks ini, terdapat paling kurang delapan rumah yang usianya diperkirakan lebih dari satu abad. Salah satunya, rumah permukiman Arab pertama di Kampung 13 Ulu, Habib Abdurrahman Al Munawar. Keseluruhan rumah berkonstruksi panggung dengan menggunakan bahan kayu unglen dan sebagian lagi menggunakan batu secara keseluruhan.

Sebagian dari rumah itu berarsitektur limas seperti rumah Habib Abdurrahman dan sebagian lagi telah mendapat sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Ini juga terlihat dari bentuk tangga, baik tangga di luar rumah maupun di dalam. Tangga ini dibuat sedemikian rupa, ada rumah yang tangganya berukir biasa, menyerupai bentuk kotak dengan sayatan pada empat sisi di atasnya sehingga, bentuknya sekilas menyerupai limas sekilas dapat menyerupai bentuk puncak menara masjid bergaya Turki. 
 
Demikian pula dengan bentuk terali pembentuk pagar di rumah berlantai dua. Jika diamati, Bentuk engsel berbahan kuningan ini menyerupai burung elang ketika jendela dalam posisi tertutup. Sebagian rumah tua di kampung itu bahkan telah menggunakan batu marmer sebagai lantai. Bahkan, marmer ini tidak hanya dipasang di lantai rumah berukuran sekitar 20 x 30 meter itu saja. konon khusus didatangkan dari Italia dengan bentuk bujur sangkar 50 x 50 cm itu dipasang hingga ke teras.

Di kampung ini, juga terdapat rumah Kapten Arab. Seperti halnya sukubangsa Cina dan India, pada tahun 1825, Pemerintah Belanda di Palembang melakukan pendekatan. Dari tiap sukubangsa itu, diangkatlah pemimpin kaum dengan pangkat Kapten. Kapten terakhir di Kampung Al Munawar ini bernama Ahmad Al Munawar yang wafat pada tahun 1970.
Kampung Al-Munawar telah dijadikan tempat wisata religi oleh pemerintah sumsel. Dijadikannya kampung itu sebagai wisata religi sebagai upaya dalam mendukung wisata Sungai Musi yang telah dikenal wisatawan mancanegara.

Rumah dan bangunan di Kampung Al-Munawar umumnya berusia di atas 100 tahun. Lokasi kampung tersebut juga tidak jauh dari Sungai Musi.
Agar terlihat lebih menarik, Kampung Arab pun ditata dan dibersihkan, demikian pula dengan Sungai Musi.
Keberadaan wisata religi Kampung Arab itu diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Palembang.

(Sumber : Dirangkum dari berbagai blog)



Kampung Kapitan Palembang




PalembangHistory – Kampung Kapitan berlokasi di Jl. KH Azhari  Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberan Ulu 1, Palembang. Letaknya ada di tepi ulu Sungai Musi. Dari bawah Jembatan Ampera, Anda bisa naik angkutan umum jurusan Ampera-Kertapati dan berhenti di Simpang Pasar Klinik. Dari sana, Anda bisa berjalan hingga Simpang 3 dan menemukan papan tulisan Kampung Kapitan di tepi kiri.


Sumatera tak luput dari jejak persinggahan China. Seperti di Palembang, ada sisa peradaban Tionghoa yang masih bisa dilihat di Kampung Kapitan.
Setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh, datanglah Perwira China dari Dinasti Ming yang dikenal dengan nama Perwira Tjoa. Diperkirakan Perwira Tjoa datang sekitar abad ke-14. Sebagai pendatang, awalnya ia tidak begitu dianggap. Namun keadaan menjadi terbalik saat Belanda mulai menjajah.

Alih-alih mengusir etnis Tiongkok, Belanda malah memberdayakan tenaganya untuk menjadi pengatur kawasan tersebut. Kapitan atau kapten adalah panggilan untuk orang yang memimpin kawasan tersebut. Orang ini dipilih karena memiliki status ekonomi tertinggi di sana, dibanding dengan penduduk lainnya.

Karena status yang eksklusif, Sang Kapitan pun memiliki kawasan tinggal yang berbeda. Rumahnya yang kental dengan gaya China namun tak kehilangan sentuhan Palembang, berdiri tegap di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Kapitan.

Di dalam kampung ini, ada 15 bangunan rumah namun tidak semua bergaya China. Yang paling mencolok adalah bangunan rumah Sang Kapitan. Bangunan inti Kampung Kapitan terdiri dari 3 rumah yang juga menjadi bangunan paling besar yang ada di sana.

Ketiga bangunan ini menghadap Sungai Musi dan memiliki bentuk yang unik. Bagian atapnya mengadopsi gaya rumah di Palembang yaitu berbentuk limas. Sedangkan gaya China terasa di bagian dalam dan bagian tengah kompleks rumah.

Bangunan ini memiliki area terbuka di bagian tengahnya yang berguna untuk jalur masuk udara dan cahaya matahari. Di bagian dalamnya, ada meja altar yang berguna untuk beribadah.

Ada juga foto Kapitan ke-10 di bagian dalam rumah yang bisa dilihat para pengunjung. Warna merah yang mayoritas pun mengentalkan suasana khas China. Namun setelah hadir Belanda, rumah ini sedikit juga dipoles dengan sentuhan Eropa.

Meski tidak terlalu terawat, rumah ini masih ditempati oleh keturunan Kapitan.
Saat ini. kawasan Kampung Kapitan tengah dikelola lebih serius oleh Pemkot Palembang. Selain pemugaran beberapa bagian bangunan rumah khas, juga lanskap/taman di sekitarnya.

Seperti yang berada tepat di depan rumah tua Kampung Kapitan, taman dibangun sebagai bagian penunjang kenyamanan wisatawan dan penduduk sekitar. Tak khayal, taman yang terdapat Miniatur Pagoda dari batu di tengahnya ini, selalu ramai disambangi warga saat sore hari untuk berkumpul.



(Sumber: dirangkum dari berbagai blog)

Kamis, 18 Februari 2016

Taman Wisata Alam Punti Kayu




Palembang History - Punti Kayu adalah sebuah taman atau hutan wisata yang menjadi tempat rekreasi keluarga di Palembang. Taman Wisata Alam Punti Kayu terletak di kota Palembang, tepatnya di Jalan Kol. H. Barlian Km 6,5 Palembang. Ditetapkan menjadi hutan wisata Punti Kayu seluas 50 ha berdasarkan SK Menteri Kehutanan. Kawasan TWA Punti Kayu saat ini telah diusahakan oleh pihak ketiga (PT Indosuma Putra Citra) untuk kegiatan pariwisata alam dengan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) pada areal TWA Punti Kayu seluas 39,9 ha untuk jangka waktu 30 tahun terhitung mulai tahun 1999.


Sejak lama Taman Wisata Alam Punti Kayu diketahui telah berkembang menjadi hutan pinus. Tak banyak mengetahui, jika kawasan tersebut sengaja ditanam pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1937 lalu. Awalnya, luas lahan dikembangkan mencapai 98 hektar, kini tersisa 50 hektar. Sebelum Punti Kayu, taman wisata alam tersebut pernah dinamakan Taman Sari serta Syailendra.

Dilihat dari tinggi serta ukuran batang, tentu saja, pohon yang ada sudah cukup berumur.  Wajar saja, pohon yang ada, sudah ditanami sejak zaman Belanda, tepatnya tahun 1937 lalu. Luas lahan ditanami Belanda kala itu mencapai 98 hektar.

Kala itu, pusat pemerintahan Palembang dibangun Belanda berada di kawasan Merdeka hingga Bukit Kecil. Sedangkan kawasan Punti Kayu dulunya masuk Kabupaten Muba. “Punti kayu ini masuk dataran rendah. Ternyata, pohon tanaman Belanda ini berhasil dikembangkan. Tahun 1960 an, namanya Taman Sari. Kemudian berganti dengan nama Syailendra.

Perihal berkurangnya lahan hutan punti kayu, mengacu pada surat persetujuan Direktur Jendral Kehutanan Nomor:133/DJ/I/1980 tanggal 26 April 1980. Intinya, luas lahan punti kayu dikeluarkan 48 hektar untuk keperluan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel, Kodam II/Sriwijaya serta asrama polisi.

Terkait nama punti kayu sendiri tampaknya mulai didengungkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan tanggal 7 Maret 1985 No57/KPTS-II/1985. Sejak itulah, punti kayu ditetapkan sebagai hutan wisata.
Hutan Punti Kayu merupakan satu-satunya lokasi wisata hutan di Kota Palembang. Hutan yang memiliki luas 12 hektar ini merupakan paru-paru kota yang di dalamnya tumbuh tanaman yang didominasi oleh tanaman jenis pinus. 

Berdasarkan survey dan inventarisasi tahun 2008, kawasan TWA Punti Kayu memiliki berbagai jenis flora dan fauna. Jenis flora yang mendominasi yaitu pinus dan meranti. Keragaman flora antara lain mahoni, meranti, pulai, albasia, sengon, ampupu, akasia, kayu putih, bambu, ketapang, beringin, plangas, phillicium, akasia, bungur, jarak, kayu talok, angsana, walikukun, seru, kapuk, lamtoro, asam jawa, keruing, sungkai, laban, kiteja, waru.
Jenis fauna yang berada di TWA Punti Kayu antara lain kera ekor panjang, beruk, bajing tanah, ular phiton, biawak, burung raja udang, burung murai, burung kutilang, burung but-but, burung cici, burung sesap madu, burung perkutut, burung prenjak, burung pipit.


Di TWA Punti Kayu terdapat berbagai atraksi wisata antara lain naik gajah, taman satwa,flying fox, trekking, dan pengamatan hutan pinus
Untuk dapat ke tempat rekreasi ini jika dari pusat kota di Masjid Agung Palembang rute yang di lalui itu lurus ke Jl. Jend.Sudirman sampai ke KM 7. Dan jika naik angkutan umum, dari Masjid Agung kalian bisa naik angkutan umum jurusan KM5 setalah itu turun dan naik lagi angkutan umum jurusan talang betutu, tapi sebelumnya minta sama supir angkutan umum itu stop didepan Punti Kayu. Harga Angutan Umum sekali naik Rp. 4000,-. Ada alternatif angkutan umum yaitu Trans Musi, naik dari halte Masjid Agung dan berhenti di halte Punti Kayu sesuai tarif transmusi terbaru. Punti Kayu buka dari jam 9 pagi - 4 sore.
Harga tiket masuk Punti Kayu beragam,  yaitu :
  • Anak-anak Rp.4000, per-kepala
  • Dewasa Rp.7000, per-kepala
  • Kendaraan roda dua Rp.2000, per-motor
  • Kendaraan roda empat Rp.4000, per-mobil

Dulunya Punti Kayu ini pada tahun 1938 adalah hutan lindung, dan pada tahun 1986 berubah menjadi Hutan Wisata dengan ditambah beberapa sarana wisata didalamnya diantara lain pos informasi dan pos keamanan, tempat berteduh, kebun binatang, sarana olahraga, ruang serbaguna, kolam renang, dll.

Punti Kayu ini sekarang ada 4 wilayah yang terdiri dari :
1. Wilayah Hutan Lindung
2. Wilayah Taman Rekreasi
3. Wilayah Danau dan Rawa
4. Wilayah Perkemahan

(Sumber : http://www.palembang-tourism.com)

Pemakaman Kawah Tengkurep



Palembang History - Menurut cerita juru kunci kawah tekurep, nama kawah tekurep diambil dari bentuk cungkup (kubah) yang menyerupai kawah ditengkurapkan (Palembang: tekurep). Jika diukur dari tepian Sungai Musi, kompleks makam ini berjarak sekitar 100 meter dari sungai. Di sisi yang menghadap Sungai Musi (arah selatan), terdapat gapura yang merupakan gerbang utama untuk memasuki kompleks makam. 
Di dalamnya, terdapat empat cungkup. Yaitu, tiga cungkup yang diperuntukkan bagi makam para sultan dan satu cungkup untuk putra-putri Sultan Mahmud Badaruddin, para pejabat dan hulubalang kesultanan. Layaknya komplek pemakaman, Kawah Tengkurep dikelilingi tembok tinggi di sekelilingnya. Suasananya begitu teduh dengan pepohonan sehingga sangat nyaman bagi mereka yang berziarah.

Dahulu di masa-masa awal, Kambang Koci merupakan bagian dari komplek Kawah Tengkurep Konon, pada tahun 1151 H/ 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin 1 mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. 
Tanah pemakaman tersebut dinamakan Kambang Koci, yang berasal dari kata kambang (kolam) dan sekoci (perahu), karena jauh sebelumnya tempat itu merupakan tempat pencucian perahu. Pemakaman ini sempat nyaris tergusur untuk perluasan area pelabuhan. Namun usaha “pembumi-hangusan” itu tak pernah berjalan mulus. Konon, pada tahun 1997, telah disiapkan ratusan peti untuk memindahkan jasad-jasad terkubur ke tempat lain.
Namun tiba-tiba terjadi kecelakaan pesawat Silk air di perairan Sungsang, salah satu musibah terbesar dalam penerbangan Indonesia. Ajaibnya, jumlah korban tewas kecelakaan tersebut sama dengan jumlah peti yang rencananya untuk pemindahan kubur tadi. Akhirnya, peti tersebut digunakan untuk para korban kecelakaan.
Ketebalan bangunan pada makam ini mencapai 1 M. Oleh karena itu, bangunan-bangunannya tidak pernah direnovasi karena masih sangat kokoh. Hanya saja pengecatan pada temboknya saja lebih ditingkatkan.Kompleks Pemakaman Kawah Tengkurep ini merupakan salah satu dari belasan komplek pemakaman lainnya yang tersebar di sudut kota Palembang dan Pemakaman Kawah Tengkurep ini pun merupakan jejak sejarah dari para ulama dan sultan di era Pemerintahan Palembang Darussalam.Berdasarkan dari catatan sejarah lama kota Palembang, Pemakaman Kawah Tengkurep ini dibangun pada tahun 1728 Masehi atas perintah dari Sultan Mahmud Badaruddin I atau nama lainnya adalah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo ( yang wafat pada tahun 1756 M ), kalau tidak salah, itu kurang lebih tidak lama setelah masa pembangunan Kompleks Makam atau Gubah Talang Kerangga ( 30 Ilir ) itu di selesaikan. Nama Pemakaman Kawah Tengkurep itu sendiripun diambil dari bentuk cungkup (kubah) -nya yang menyerupai sebuah kawah yang ditengkurapkan, atau kawah terbalik, ( kalau dalam bahasa Palembang adalah Tengkurep ).Kompleks Pemakaman Kawah Tengkurep ini di dalamnya terdapat empat cungkup, tiga cungkup sengaja diperuntukkan bagi makam para sultan-sultan kota Palembang dan satu cungkup lainnya untuk putra-putri Sultan Mahmud Badaruddin, para pejabat kesultanan dan hulu-balang kesultanan kota Palembang. 

Berikut nama-nama tokoh yang dimakamkan di Pemakaman Kawah Tengkurep :
Cungkup I :  
1. Sultan Mahmud Badaruddin I (wafat tahun 1756 M)
2. Ratu Sepuh, istri pertama yang berasal dari Jawa Tengah
3. Ratu Gading, istri kedua yang berasal dari Kelantan (Malaysia)
4. Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio), istri ketiga yang berasal dari Cina
5. Nyimas Naimah, istri keempat yang berasal dari I Ilir (Guguk Jero PagerKota Palembang Lamo)
6. Imam Sayyid Idrus Al Idrus dari Yaman Selatan (Guru Spiritual
 Sultan).
Cungkup II :
1. Pangeran Ratu Kamuk (wafat tahun 1755 M)
2. Ratu Mudo (istri P. Kamuk)
3. Sayyid Yusuf Al Angkawi (Imam/ Guru penasihat Sultan)
Cungkup III :
1. Sultan Ahmad Najamuddin (wafat tahun 1776 M)
2. Masayu Dalem (istri Najamuddin)
3. Sayyid Abdur Rahman Maulana Tugaah (imam Sultan dari Yaman)
Cungkup IV :
1. Sultan Muhammad Bahauddin (wafat tahun 1803 Masehi)
2. Ratu Agung (istri Bahauddin)
3. Datuk Murni Hadad (Imam Sultan dari Arab Saudi)
4. Beberapa makam lain yang tidak terbaca namanya

Di luar keempat cungkup itu, masih terdapat beberapa makam. Antara lain, Susuhunan Husin Diauddin, yang wafat dalam pembuangan oleh Belanda di Jakarta, 4 Juli 1826. Semula, Husin Diauddin dimakamkan di Krukut tetapi kemudian dipindahkan ke Palembang.

(Narasumber :    Juru Kunci Pemakaman Kawah Tengkurep)